Di Hadapan Brahma

_MG_0506

Penghujung tahun. Dihadapan Brahma, dingin semakin larut, halimun kian menggelayut. Atap Jawadwipa tampak samar dari kejauhan. Bayu berembus teramat kencang, tak seperti biasanya. Disisa gelegar petir menyambar, Tuhan mohon berikan pijar. Pandangan semakin kabur, hari sebentar lagi gelap. Gigi gemeretak, badan menggigil. Saya jadi membayangkan betapa tidak enaknya menjadi “Si Budi Kecil” yang kuyup menjelang petang dipersimpangan jalan

Continue reading

Advertisements

Sehari Semalam, Venesia Van Java

20170827_114311

Tahun ini sungguh saya mulai jarang melakukan perjalanan. Intensitas perjalanan pun menurun di banding tahun tahun sebelumnya. Dulu tiap akhir pekan saya bisa berkunjung ke suatu tempat baru. Sekarang akhir pekan hanya dihabiskan dengan ndlosor di tempat tidur dan membaca buku. Pun begitu dengan bulan Agustus kemarin, bulan di mana langit sedang cerah, cuaca sedang terik dan angin berhembus lumayan kencang.

Continue reading

Kota Megapolutan, Katanya..

20170829_121537

Jujur, saya merindukan pagi di kampung halaman. Santai, damai, tenang tanpa gangguan bising dan bau asap kendaraan. Maklum rumah saya jauh dari jalan raya utama. Lebih dekat sungai dan pring-pringan. Saya lebih suka menyebutnya dengan kata barongan. Bambu yang berjumlah banyak dan lebat. Barangkali sebentar lagi barongan tersebut hanya tinggal cerita, berganti dengan perumahan. Dengan uang muka sekian-sekian. Selain itu, juga dekat dengan lapangan yang lumayan luas, dan (lagi-lagi) sudah mulai berdiri bangunan rumah bertipe tiga puluh enam.

Continue reading

Menggadaikan ‘Cinta’ Pada Persela

Hari begitu cerah untuk sebuah pertandingan yang sebentar lagi dihelat. Ribuan orang dengan atribut biru muda datang dari segala penjuru. Sambil meneriakkan nyanyian. Nyanyian untuk kebanggaan. Disisi lain, beberapa orang beratribut hitam, mengenakkan scarf dileher, memakai topi stone island, dan menenteng giantflag berjalan beriringan. Dan kalau tidak salah beberapa dari mereka mengenakkan jaket dengan brand Ellesse atau Sergio Tacchini.

Continue reading

Kabut: Dibenci dan Dinikmati

_MG_9241

Pagi masih berusia balita, saya berangkat menuju kota tersayang. Malang. Kota yang (dulu) sejuk dan rindang. Langit berwarna putih pucat, jalan antarkota relatif lengang, tanah senantiasa basah. Oleh karena hujan semalam turun dengan durasi yang tak sebentar. Kabut turun mendahului terbitnya penguasa hari. Membuat jarak pandang hanya beberapa puluh meter, membuat saya harus berkali-kali memicingkan mata.

Continue reading