SabilAdam13

Bagaimana dengan kehidupan masa depan?

Kepala saya pengar dengan pertanyaan demikian. Pertanyaan itu datang dari diri sendiri. Sering muncul begitu saja. Dimanapun & kapanpun. Datang tak kenal waktu. Tak terkecuali hari ini. Tentu saya tak dapat mengelak. Hari esok memang mistis. Setidaknya itu yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer. Sampai kapan terus begini? Sedang diluar sana, orang seumuran saya sudah melakukan sesuatu yang luar biasa.

Continue reading

Advertisements

Lain Perjalanan

DSC_0096

Tidak biasanya, kamu lelap sebelum pukul 00.00. Apalagi ini Selasa malam, dimana kamu biasa terjaga hingga dinihari. Barangkali kamu lelah, setelah dua minggu terakhir kamu dengan usaha sekeras batu, berusaha menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya kamu tidak tahu mengapa harus mengerjakan hal serumit itu. Suaramu tampak lelah, sorot matamu begitu resah. Sebab minggu depan, apa yang telah kamu kerjakan harus dipertanggungjawabkan.

Continue reading

Di Hadapan Brahma

_MG_0506

Penghujung tahun. Dihadapan Brahma, dingin semakin larut, halimun kian menggelayut. Atap Jawadwipa tampak samar dari kejauhan. Bayu berembus teramat kencang, tak seperti biasanya. Disisa gelegar petir menyambar, Tuhan mohon berikan pijar. Pandangan semakin kabur, hari sebentar lagi gelap. Gigi gemeretak, badan menggigil. Saya jadi membayangkan betapa tidak enaknya menjadi “Si Budi Kecil” yang kuyup menjelang petang dipersimpangan jalan

Continue reading

Sehari Semalam, Venesia Van Java

20170827_114311

Tahun ini sungguh saya mulai jarang melakukan perjalanan. Intensitas perjalanan pun menurun di banding tahun tahun sebelumnya. Dulu tiap akhir pekan saya bisa berkunjung ke suatu tempat baru. Sekarang akhir pekan hanya dihabiskan dengan ndlosor di tempat tidur dan membaca buku. Pun begitu dengan bulan Agustus kemarin, bulan di mana langit sedang cerah, cuaca sedang terik dan angin berhembus lumayan kencang.

Continue reading

Kota Megapolutan, Katanya..

20170829_121537

Jujur, saya merindukan pagi di kampung halaman. Santai, damai, tenang tanpa gangguan bising dan bau asap kendaraan. Maklum rumah saya jauh dari jalan raya utama. Lebih dekat sungai dan pring-pringan. Saya lebih suka menyebutnya dengan kata barongan. Bambu yang berjumlah banyak dan lebat. Barangkali sebentar lagi barongan tersebut hanya tinggal cerita, berganti dengan perumahan. Dengan uang muka sekian-sekian. Selain itu, juga dekat dengan lapangan yang lumayan luas, dan (lagi-lagi) sudah mulai berdiri bangunan rumah bertipe tiga puluh enam.

Continue reading