Kota Megapolutan, Katanya..

20170829_121537

Jujur, saya merindukan pagi di kampung halaman. Santai, damai, tenang tanpa gangguan bising dan bau asap kendaraan. Maklum rumah saya jauh dari jalan raya utama. Lebih dekat sungai dan pring-pringan. Saya lebih suka menyebutnya dengan kata barongan. Bambu yang berjumlah banyak dan lebat. Barangkali sebentar lagi barongan tersebut hanya tinggal cerita, berganti dengan perumahan. Dengan uang muka sekian-sekian. Selain itu, juga dekat dengan lapangan yang lumayan luas, dan (lagi-lagi) sudah mulai berdiri bangunan rumah bertipe tiga puluh enam.

Continue reading

Advertisements

Menggadaikan ‘Cinta’ Pada Persela

Hari begitu cerah untuk sebuah pertandingan yang sebentar lagi dihelat. Ribuan orang dengan atribut biru muda datang dari segala penjuru. Sambil meneriakkan nyanyian. Nyanyian untuk kebanggaan. Disisi lain, beberapa orang beratribut hitam, mengenakkan scarf dileher, memakai topi stone island, dan menenteng giantflag berjalan beriringan. Dan kalau tidak salah beberapa dari mereka mengenakkan jaket dengan brand Ellesse atau Sergio Tacchini.

Continue reading

Kabut: Dibenci dan Dinikmati

_MG_9241

Pagi masih berusia balita, saya berangkat menuju kota tersayang. Malang. Kota yang (dulu) sejuk dan rindang. Langit berwarna putih pucat, jalan antarkota relatif lengang, tanah senantiasa basah. Oleh karena hujan semalam turun dengan durasi yang tak sebentar. Kabut turun mendahului terbitnya penguasa hari. Membuat jarak pandang hanya beberapa puluh meter, membuat saya harus berkali-kali memicingkan mata.

Continue reading

Senja Waduk Prijetan

DSC_0361

Matahari yang sedari tadi tinggi, perlahan menepi. Pelan meniti, ufuk barat sabar menanti. Saya pergi di dekat tanaman jagung yang mengering tepat disisi kiri perahu nelayan. Duduk sendiri diantara tenang air Waduk Prijetan. Dari kejauhan beberapa warga mulai mengayuh onthel-nya menuju ke rumah, ada pula yang menepikan perahu pertanda bahwa pekerjaan hari ini segera diakhiri.

Continue reading

7665 Hari

Gadis belia berbibir tipis, berparas manis sedang menenteng koran. Ia berlari, tampak tergesa diantara kerumunan pribumi. Sambil meneriakkan sebuah nama, Tuan Tjokro. Bukan hanya sekali, tapi berkali kali. Tuan Tjokro.. Tuan Tjokro.. Tuan Tjokro.  Begitu teriaknya agar Tjokroaminoto  menghentikan atau setidaknya memperlambat langkah. Tjokroaminoto  menoleh, gadis itu berhasil menyelinap diantara kerumunan.

Continue reading