Empat Kawan dari Jodipan

IMG20170210141737

Jodipan semakin tenar. Di koran, di sosial media hingga layar kaca. Sudah jelas penyebabnya, ialah ide kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi perguruan tinggi swasta yang sedang melakukan tugas di lapangan.  Tidak sekedar  mengerjakan tugas dengan harapan mendapat nilai A, tapi kemudian mereka juga melakukan inovasi yang boleh dibilang cemerlang. Sosialisasi pada warga hingga mencarikan dana. Hasilnya? Bisa dilihat sekarang.

Penuh warna bak pelangi. Dimana kampung dengan predikat kumuh ini berhasil diubah menjadi tujuan wisata yang sudah pasti sedap dipandang. Jumat pagi saya sengaja berkunjung ke Kampung Warna Warni. Kampung yang selama ini saya lewati begitu saja. Bukan sekedar menengok, mengambil foto, kemudian pergi. Lebih dari itu.

Mari ikut masuk kedalam. Tapi tunggu. . sebelum masuk, saya ingin mengajakmu melihat perpaduan warna merah-kuning-biru-jingga dan sebagainya dari atas jembatan. Persis di tepi jalan raya utama, penghubung Stasiun Kotabaru dan Pasar Gadang.

Tempat lalu lalang kendaraan serta klakson yang terkadang memekakkan pendengaran. Sesekali terdengar peluit tanda petugas parkir motor mengarahkan sepeda motor pengunjung untuk merapat, agar tak semakin memperparah kemacetan.

Kemudian di sepanjang trotoar jembatan, beberapa pengunjung nampak asyik ber-swa-foto. Dengan kawan maupun dengan pasangan. Enggan melewatkan tiap momen. Sudah cukup kah melihat Jodipan dari atas jembatan?

IMG20170210135408

Baiklah. . mari masuk kedalam. Hanya beberapa meter dari jembatan, gang masuk berada di kiri jalan tepat di pertigaan. Di sisi kanan-kiri gang masuk merupakan lahan parkir pengunjung.

Selepas gang masuk, jalan menurun berupa anak tangga yang kurang lebih berjumlah puluhan. Masih seperti kampung pada umumnya, berjejal rumah tanpa celah.

Melangkah lebih jauh. nampak pengunjung sibuk dengan ponsel mereka masing masing, mengambil gambar dengan latar belakang rumah penuh warna atau mural bergambar kepala singa. Disekelilingnya beberapa warga beraktivitas seperti biasa.

Ada yang duduk sambil bercakap, menjemur pakaian, dan ada juga yang sibuk mengecat. Saya pun menyapa sebagian dari warga dan minta izin untuk duduk di teras rumah mereka.

Sembari istirahat dan melihat-lihat. Empat anak kecil berumur kira kira 8-11 tahun datang menghampiri saya, meminta untuk direkam atau difoto. Dengan senang hati saya merekam mereka.

IMG20170210140135

Bercanda dengan mereka, walaupun candaan saya tak berhasil membuat mereka tersenyum. Apalagi tertawa. Lalu keempat anak itu pergi begitu saja. Beranjak dari teras warga, mari kembali berjalan.

Sambil membungkukan badan saat lewat didepan warga yang sedang duduk didepan rumah mereka masing masing.

“Nyuwun sewu nggeh pak, bu. Monggo” – permisi ya pak, bu. Mari.

“Monggo mas!” – Mari juga mas!

Bagi orang Jawa, membungkukan badan saat berjalan melewati orang menandakan kita hormat dan menghargai orang tersebut.

“Iku lo mas, sampean munggah ae ndek kono lek pingin foto ndek gambar Pokemon. Apik lo!” – itu lho mas, kamu naik saja kesana kalau ingin foto di gambar Pokemon. Bagus lho!

Sambil menunjuk rumah yang berada diatas sana, tak jauh dari tempat saya berada. Mengangguk, tersenyum mengiyakan arahan tersebut. Melangkahkan kaki menyusuri lorong lorong, menemui sudut sudut yang luput. Melihat lebih dalam kehidupan warga, melihat lebih dekat realita.

Saya kembali bertemu 4 anak kecil yang tadi sempat bertemu. Lantas mereka mengajak saya untuk turun ke bawah. Menarik tangan saya untuk ikut dengan mereka. Mereka bernama Axel, Rahel, dan ah. . dua anak lagi saya lupa namanya.

Andai nanti salah dua dari 4 anak tersebut membaca tulisan ini, maafkan saya yang tak mampu mengingat nama kalian berdua. Masing masing dari mereka membawa benang dan layang layang.

Saya ikut dengan mereka, ikut turun serta bermain layang layang di bantaran sungai. Nampak dari kejauhan, berpuluh puluh pengunjung nampak mengantri foto dengan latar belakang dinding biru langit dan merah muda.

Di sebelah barat, berdiri kokoh pilar penyangga rel kereta. Kebetulan juga kereta sedang lewat, bergerak lambat. Meninggalkan bising, debu ikut bertebaran. Pemandangan sehari hari bagi warga Jodipan.

IMG20170210143844

Angin berembus tak terlalu kencang, menyulitkan anak anak menerbangkan layang layang. Arah angin juga terkadang tidak menentu, layang layang sudah terbang, walau jatuh kemudian. Sambil bermain, mereka bercakap cakap satu sama lain.

Percapakan mereka awalnya menarik, tentang pelajaran disekolah, saling menertawakan nilai jelek masing masing. Lalu seputar permainan dan obrolan anak kecil pada umumnya.

Tapi kemudian, tema percakapan mengarah ke yang lain. Yang menurut saya tidak pantas di ucapkan oleh anak seumuran mereka, belum waktunya barangkali. Disela percakapan mereka juga mengeluarkan umpatan yang tidak seharusnya di keluarkan.

Miris. Anak seumuran mereka, yang masih duduk di bangu sekolah dasar berkata demikian. Bukan bermaksud menggurui, saya mencoba untuk mengingatkan secara halus, dengan cara paling persuasif.

20160816_134750

Mereka malah mentertawakan dan berkata kalau ini sudah biasa. Tidak berhasil. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan keras, yang ternyata suara tersebut dari seorang ibu ibu. Nampaknya ia adalah ibu salah satu dari empat anak ini. Rupanya si ibu mendengar percakapan mereka, marah lah si ibu tadi, kemudian membentak. Mengingatkan agar jangan diulang lagi.

Keempat anak tadi diam seketika. Terjadi momen hening beberapa saat setelah sang ibu marah. Saya juga ikut terdiam. Entah.

Sebelum akhirnya saya berpamitan pada ke empat ‘kawan kecil’ tadi. Sambil mengusap kepalanya. Axel, Rahel dan dua kawan yang saya tak ingat namanya. Sampai bertemu di hari kemudian!

IMG20170210151745

 

Advertisements

TINGGALKAN KOMENTAR

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s