Senja Waduk Prijetan

DSC_0361

Matahari yang sedari tadi tinggi, perlahan menepi. Pelan meniti, ufuk barat sabar menanti. Saya pergi di dekat tanaman jagung yang mengering tepat disisi kiri perahu nelayan. Duduk sendiri diantara tenang air Waduk Prijetan. Dari kejauhan beberapa warga mulai mengayuh onthel-nya menuju ke rumah, ada pula yang menepikan perahu pertanda bahwa pekerjaan hari ini segera diakhiri.

Begitu juga dengan bocah-bocah keci yang  menyudahi bermain. Di antara sepi waduk ini, angin sepoi menghampiri, bersamaan dengan senandung burung bersahut-sahutan. Beberapa burung terbang berpasang-pasangan melintas cakrawala. Memamerkan kemesraan. Saya tentu tak mau kalah, sederhana saja saya juga berdua dengan senja. Senja, teman menghabiskan sore yang tenang menuju petang.

Menunggu setia sang surya untuk segera menambatkan sinarnya, semakin mendekat dan melekat. Memeluk erat hamparan sinar untuk segera beristirahat. Sampai akhirnya, tunai sudah. Menandakan bahwa sang surya berpisah dengan kisah ini hari, sekaligus menyiapkan diri untuk esok yang lebih baik lagi.

Hanyut dalam keheningan, tenggelam dalam ketentraman. Senja, mengajarkan bahwa sebuah perpisahan tak identik dengan kesedihan. Melihat senja, melihat arti penting sekelilingmu sebelum ia benar benar meninggalkanmu. Saya mengagumi senja tanpa banyak berkata-kata.

Karena,  kata-kata  dizaman sekarang banyak menguap di udara. Apalagi kata-kata mereka dari atas panggung atas nama rakyat Indonesia. Berbusa, berbisa. Tanpa ada realita.

Dibalik senja, ada rindu yang sesekali meragu. Separuh memilih bertahan, separuh lagi memilih meninggalkan. Lalu seorang kawan menyarankan: kalau ragu balik kanan! Singkat padat dan tentu saja bisa dipertimbangkan.

Andai kau dapat duduk berdua di disini, di tepian Waduk Prijetan. Berteman senja hingga bersahabat gulita. Sini jangan ragu, mendekatlah. Satukan rasa dibawah langit yang sama. Karena senja ini bukan hanya milik mereka, bukan juga milik para penguasa. Senja milik bersama, milik nusantara.

Senja bukan hanya di tanah anarki, tapi ada di pelosok negeri. Gemah ripah loh-jinawi. Negeri dengan banyak panorama senja, sebanyak harapan rakyat yang merintih pedih di tikam janji palsu oleh wakil nya. Tak terhitung lagi banyaknya, tak terbayang betapa sakitnya. Sampai akhirnya dilumat  gulita, janji tinggalah janji.

Terima kasih senja, sudah banyak menemani ruang kosong di sore yang tenang. Biarkan malam penuh bintang yang menggantikanmu untuk sementara waktu.

DSC_0336

Advertisements

TINGGALKAN KOMENTAR

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s